Markus  10:25 Lebih mudah seekor unta melewati lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” // εὐκοπώτερόν ἐστιν κάμηλον διὰ [τῆς] τρυμαλιᾶς [τῆς] ῥαφίδος διελθεῖν ἢ πλούσιον εἰς τὴν βασιλείαν τοῦ θεοῦ εἰσελθεῖν·

Unta masuk lubang jarum? Yesus berbicara tengtang kerajaan Allah yang tersedia bagi manusia. Untuk masuk kr dalam Kerajaan Allah adalah seperti unta masuk lubang jarum. Apakah lubang jarum itu ?

Ada usaha-usaha untuk menafsirkan ayat di atas dengan menganggap bahwa unta (Yunani: καμηλος – kamêlos) sebenarnya adalah tali tambang  (Yunani: καμιλος – kamilos) atau bahwa ada gerbang kecil yang bernama lobang jarum yang begitu rendah sehingga seekor unta harus membungkuk kalau mau melewatinya.

Demikian pula ada usaha-usaha untuk menghubungkan kata Yunani καμηλος – kamêlos dengan kata Aram gamla’ yang di samping bermakna unta juga dapat bermakna tali tambang. Padahal bahasa Aram untuk tali tambang adalah  habla dan bukan gamla. Usaha yang disebutkan terakhir ini menyatakan bahwa naskah Perjanjian Baru Yunani sebenarnya merupakan hasil terjemahan dari teks asli berbahasa Semitik.

“And (dein) again (tub) I word (‘emar) to you, it is easier (delila) for a camel (gamla) to pass (al) through the opening (herura) of a needle (mehata) than (‘au) a rich (‘atira) man to enter (al) the sovereigndom (malkuta) of God (‘alaha)”, The Aramaic New Covenant

Usaha yang kedua yaitu menyatakan bahwa ada gerbang kecil yang bernama lobang jarum dikemukakan oleh Lord George Nugent (1845). Ia menyatakan bahwa ada dua gerbang di kota Yerusalem, yang pertama dan agak besar digunakan bagi hewan beban, dan yang kedua agak kecil digunakan bagi pejalan kaki. Yang kecil inilah yang dewasa ini disebut sebagai mata jarum namun tidak ada bukti bahwa gerbang itu sudah ada di era Yesus Kristus. Canon Farrar, bahkan menyatakan bahwa nama mata jarum itu baru diberikan belakangan oleh kalangan Yahudi Kristen untuk merujuk kepada perkataan Yesus Kristus.

Pendapat bahwa unta adalah tali tambang jelas tidak tepat karena ada penulis Injil sinoptik semuanya menulis ”καμηλος – kamêlos”, bukan ”καμιλος – kamilos”. Pendapat kedua juga kurang tepat karena jika lobang jarum itu adalah gerbang kecil di Yerusalem, maka masih ada kemungkinan unta dapat melewatinya, bertentangan dengan ayat berikutnya bahwa bagi manusia, unta tidak mungkin dapat masuk melalui lobang jarum.

* Matius 19:26
LAI TB, Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.
KJV, But Jesus beheld them, and said unto them, With men this is impossible; but with God all things are possible.
TR, εμβλεψας δε ο ιησους ειπεν αυτοις παρα ανθρωποις τουτο αδυνατον εστιν παρα δε θεω παντα δυνατα εστιν
Translit. interlinear, emblepsas {memandang} de {tetapi} ho iêsous {Yesus} eipen {Dia berkata} autois {kepada mereka} para {bagi} anthrôpois {para manusia} touto {ini} adunaton {mustahil} estin {ia adalah} para {bagi} de {tetapi} theô {Allah} panta {segala sesuatu} dunata {dapat, mungkin} estin {ia adalah}

Satu hal lagi, nama-nama tempat di Israel dalam Alkitab Perjanjian Baru senantiasa ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aram, tidak ada yang ditulis dalam bahasa Yunani, misalnya :
– Getsemani (Matius 26:36), dari kata Aram gat (anggur) syemen (minyak) atau bahasa Ibrani gay (lembah) syemen (subur) (Yesaya 28:1).
– Golgota (Matius 27:33), dari kata Aram (Ibrani: gulgolet), tengkorak.
– Betlehem (Lukas 2:4) dari kata Ibrani beyt lekhem dari kata bayit (rumah) dan lekhem (roti).
– Betesda (Yohanes 5:2) juga dalam bahasa Aram, Ibrani: bayit (rumah) dan khesed (kemurahan).

Jika seandainya ada gerbang kecil yang bernama lobang jarum pada zaman Yesus Kristus, baik Matius, Markus, maupun Lukas akan menuliskannya dalam bahasa Ibrani atau Aram, bukan dalam bahasa Yunani ”trupêmatos rhaphidos” .

Kalangan Semitik (Ibrani, Aram, maupun Arab) biasa menggunakan tamsil (ibarat) seperti unta atau gajah melewati lubang jarum untuk melukiskan suatu kemustahilan :

“Anda tahu bahwa mereka tidak dapat memperlihatkan kepada seseorang pohon emas, tidak pula seekor gajah melewati mata jarum.” (T. Bab. Beracot, vol. 55. 2.)

“Barangkali Anda adalah salah satu dari Pombedita (sekolah Yahudi di Babilonia) yang membuat seekor gajah melewati mata jarum.” (T. Bab, Bava Metzia, vol. 38. 2.)

“Demi Allah, kami sudah melihat dengan mata kepala sendiri, membawa seekor gajah melewati mata jarum.” (Prefat. ad Zohar, Editor Sultzbach}.

Bukan hanya kalangan Yahudi, namun di beberapa negara Timur, ungkapan seperti ini sering digunakan untuk menyatakan kemustahilan.

Maka, tak bisa disangkal bahwa Tuhan Yesus menggunakan gaya bahasa hiperbola yang lazim dalam masyarakat semitik untuk mengungkapkan sesuatu yang sama sekali tidak mungkin. Gaya bahasa hiperbola bisa juga kita temukan sewaktu Tuhan Yesus berbicara tentang orang dengan sebilah balok dimatanya yang ingin mengeluarkan selumbar atau setitik serbuk gergaji dari mata saudaranya (Matius 7:3-5; Lukas 6:41-42). Maksud pemakaian gaya bahasa hiperbola ini adalah supaya ajaran yang ingin disampaikan betul-betul dipahami dan tidak ada kemungkinan salah mengerti, yaitu : tidak mungkin seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah – bagi manusia hal itu tidak mungkin, Tuhan Yesus mekamuinya. Tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagiNya, juga untuk menyelamatkan seorang kaya. Jadi kalau demikian, maka hati orang kaya itu harus diubah. Cinta pada kekayaan duniawi harus diganti dengan cinta pada kekayaan sejati yaitu “harta di Surga”.

Tidak mudah bagi siapapun untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah : “sesaklah pintu dan sempitlah jalannya” (Matius 7:14) – tetapi yang akan mengalami kesulitan paling ebsar ialah orang kaya. Ajaran mutlak dari Tuhan Yesus dalam Markus 10:24 : ”Alangkah sukarnya masuk ke dalam Kerajaan Allah”telah dikembangkan pada kesaksian-kesaksian yang muncul belakangan sehingga bisa dibaca sebagai berikut : “Allahkah sukarnya bagi orang yang percaya pada kekayaan masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Hal ini bisa merupakan usaha lain untuk memperlunak kekerasan pernyataan Tuhan Yesus itu.
Seorang pembaca bisa menghibur dirinya dengan berpikir “Aku memang mempunyai kekayaan, tapi aku tidak percaya kepadanya. Jadi aku baik-baik saja”. Tetapi menurut ajaran Tuhan Yesus sangatlah sulit bagi orang kaya untuk menaruh percaya pada kekayaan itu. Bukti bahwa mereka menaruh percaya pada kekayaan atau tidak, akan terlihat dari kesediaan mereka untuk berpisah dengan kekayaan mereka.

Mengapa Tuhan Yesus mengangap kekayan sebagai penghalang seseorang masuk ke dalam Kerajaan Allah? Karena kenyataan bahwa orang yang memiliki kekayaan menggantungkan hidupnya pada kekayaan itu. Seperti petani kaya dalam perumpamaan Tuhan Yesus pada Lukas 12:16-21 yang memacu dirinya sendiri dengan pikiran tentang kekayaan besar yang ia timbun untuk bertahun-tahun lamanya. Bandingkan dengan orang zaman sekarang yang menanamkan modal besar sehingga memberi dia penghasilan besar yang tidak tergoncangkan oleh inflasi.

Rasanya tidak ada perkataan Tuhan Yesus yang lebih ‘keras’ bagi pola pikir manusia zaman sekarang ini daripada perkataan tentang ‘unta dan lobang jarum’ yang membuat orang sangat tergoda untuk memperlunak pengertiannya.

Berdasar penjelas diatas maka lubang jarum adalah sebuah lubang kecil di Yerusalem. Unta yang masuk ke dalam lubang jarum harus melepaskan semua barang bawaannya dan menunduk yang dapat menyebabkan masuk melalui lubang jarum.

sumber: www.sarapanpagi.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s