Marulloh Sang Pejuang Keadilan

20130524-154148.jpg
Tidak banyak yang tau siapa itu Marulloh. Pria yang sekarang berusia 42 tahun menutup usia karena penyakit sesak napas yang dideritanya. Dia merupakan salah satu dari banyaknya korban tragedi Tanjung Priok 1984. Marullah pernah dipenjara dan disiksa di Guntur-RTM Cimanggis padahal waktu itu Marulloh masih anak-anak. Ia tidak tahu apa-apa tapi kemudian dijebloskan di Rutan Guntur setelah mengalami penyiksaan fisik bersama beberapa orang. Marulloh juga salah satu korban yang terus berjuang dan menolak islah dengan pelaku Tanjung Priok serta menjadi saksi dalam Pengadilan HAM Ad Hoc tahun 2003. Marulloh kemudian bergabung bersama IKOHI dan Kontras, serta membentuk IKKAPRI utk berjuang hingga menutup usia pada 24 Mei 2013. Ketika meninggal, Marulloh sedang dalam pelayanan medis LPSK akibat sakitnya setelah disiksa militer tahun 1984.

Marulloh adalah
korban pelanggaran HAM berat yang meninggal sebelum mendapat keadilan, seperti korban-korban lain yang meninggal sebelumnnya.

Berikut kisah singkat perjalanan Marulloh yang diceritakannya, saat menjadi salah satu korban dalam peristiwa Tanjung Priok 1984.

“Tanggal 11 September 1984, di tempat saya tinggal ada pengumuman Tabligh Akbar di jalan Sindang, Tanjung Priok Jakarta. Esoknya, setelah Shalat Magrib saya berangkat dengan beberapa teman. Sampai di sana, saya langsung masuk di antara ribuan jamaah yang duduk di aspal. Saya mendengarkan beberapa ceramah, dan keadaan mulai riuh ketika peceramah menginformasikan tentang 4 Ikhwan yang ditangkap tentara. Katanya ada petugas Babinsa masuk mushola tanpa melepaskan sepatu dan mengacak-acak isi lemari Musholla dan merobek pamflet di dinding. Kejadian tersebut lantas membuat remaja Musholla dan warga sekitar marah sehingga terjadi pembakaran motor Babinsa. Para pengurus musholla ditangkap dan hingga tanggal 12 September 1984, saat tabligh akbar, belum juga dibebaskan.
Dalam Tabligh Akbar dinyatakan bahwa belum ada kejelasan nasib keempat orang tersebut, apakah ada di Kodim atau di mana. Amir Biki, dalam ceramahnya, sudah menghubungi dan meminta kepda pihak aparat untuk membebaskan empat orang tersebut namun tak digubris. Para jamaah Tabligh Akbar riuh dan meminta agar 4 orang tersebut dibebaskan sekarang juga dan harus ada di atas mimbar jam 23.00 WIB.
Setelah ditunggu sampai jam 23.00 WIB belum juga dibebaskan, maka para jamaah berjalan untuk menjemput 4 orang tersebut. Jamaah yg berjumlah ribuan terbagi dua, ada yang lewat Jalan Yos Sudarso ada yang lewat Jalan Koja. Karena terbawa arus massa yang jumlahnya ribuan orang, saya kebetulan ikut massa yang lewat Koja. Di Jalan Raya Koja, sudah banyak tentara berbaris menghadang massa yang bergerak menuju ke Kodim. Tidak ada polisi, hanya aparat berpakaian loreng yang kemudian mulai menembak ke arah massa yang datang. Saya lihat banyak korban berjatuhan tertembak. Saya sempat menggotong beramai-ramai korban yang sudah meninggal ke Musholla. Setelah itu saya balik lagi ke tempat semula untuk menuju ke Kodim lewat Koja, ternyata massa sudah kocar-kacir. Setelah berlari entah berapa lama tanpa menghiraukan rasa lelah, akhirnya kami sampai di perempatan Semper. Ketika mobil baru bergerak, sekitar 50 meter, kami diberhentikan aparat militer, mereka menanyai kami satu-satu: “Dari mana kamu?”. Tahu kami dari mengikuti tabligh akbar, Tentara-tentara itu dengan marah membawa kami ke Kodim, naik mobil yang kami tumpangi. Di halaman Kodim kami di tanya identitas, disuruh membuka baju dan tinggal memakai celana dalam saja. Di situlah awal penyiksaan kami.
Setelah kartu pelajar saya diambil, kami disiksa satu per satu. Badan dan pipi saya disundut rokok. Kami dipaksa saling memukul walaupun kami tidak mau. Namun petugas terus memaksa dan memberikan contoh “pukulan keras” dengan memukul saya. Setelah babak-belur disiksa sekitar 30 menit, saya langsung dimasukkan ke dalam sel yang gelap dan pengap. Di dalam sel tersebut saya ketemu dengan 4 orang yang ditahan. Setelah subuh, saya cerita ke mereka soal kekejian yang saya alami. Cerita itu didengar oleh petugas. Saya langsung dikeluarkan dari sel dan dikumpulkan bersama di lapangan untuk disiksa lagi tanpa henti. Mereka memukul telinga dan kemaluan saya dengan besi pelat. Sepertinya saya sempat pingsan saat itu. Di tempat yang akhirnya saya tahu bernama rumah tahanan Guntur, kami dimasukkan dalam sebuah sel besar.
Kami mengalami banyak teror dan ancaman menakutkan. Polisi Militer itu mengatakan kami akan ditembak mati dan dibuang ke laut. Selama 10 hari di sel Guntur kami lewati dengan ketakutan. Kepala saya digunduli. kami dipindahkan lagi ke rumah tahanan Militer Cimanggis. Sel di sini terlihat baru, tapi tidak ada sinar matahari yang masuk. Pagi kami hanya diberi air putih, siang harinya sepiring nasi dan ikan asin. Pukul 16.00 kami diberi sepiring nasi lagi. Begitu setiap harinya. Banyak yang mengalami kelumpuhan karena terus dikurung sehingga darah beku. Setelah 3 bulan, kami dipindahkan ke Rutan Salemba. Kami tinggal dalam sel berukuran 2X 1/2 meter. Satu sel diisi 3 orang. Di Salemba kurang lebih tiga bulan sambil menunggu sidang di Pengadilan Jakarta Utara. Saya divonis hukuman 20 bulan penjara potong masa tahanan. Tuduhan yg didakwakan adalah pengrusakan dan pengeroyokan petugas. Saya melihat bahwa semua bukti dan saksi-saksi direkayasa oleh pengadilan pada massa itu.
Saya dipindahkan ke LP anak Cipinang bersama 5 orang korban priok lainnya setelah divonis. Di LP Cipinang saya sudah bisa dibesuk. Tiap minggu saya sakit sesak nafas akibat penyiksaan. Penyakit ini terus kambuh dan tidak sembuh-sembuh. Untunglah di LP Cipinang ada klinik. Keluarga saya selama ini mencari saya ke mana-mana dan selalu dijawab tidak tahu oleh petugas. Saya bahkan pernah dianggap sudah meninggal dan sempat didoakan selama 40 hari. Keluarga dapat informasi dari korban yang telah dipulangkan. Seberapa beratpun resiko hidup, saya tetap akan jalani. Semua derita dan sakit ini tetap akan saya bawa mati. Sampai kini, penyakit sesak napas saya tak kunjung sembuh. Putus asa dan marah rasanya. setiap kambuh, saya tidak sanggup ke dokter karena mahal.”

Sekian cerita singkat tentang Marulloh pejuang keadilan, sebagai inspirator bagi anak bangsa.

Selamat jalan kawan, jerih payahmu & perjuanganmu tidak akan sia. Keadilan Tuhan akan terbit seperti fajar!

Sumber: @KontraS @ikohi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s