“Dapatkah orang diubah? Dapatkah dunia diperbaharui?”

ImageMengapakah kesalahan yang dilakukan oleh seseorang atau oleh sekelompok orang sering mengurbankan orang lain yang tidak mengetahui apa-apa? Bersalahkah mereka hanya karena mereka mempunyai keyakinan yang sama, suku yang sama, ras yang sama atau apapun jenis kesamaan itu? Kekerasan memang duka cerita yang berulang terus menerus dalam sejarah umat manusia. Sejarah yang sering tidak adil. Sejarah yang selalu mengambil korban pihak yang lemah dan tak berdaya. Dan dilakukan atas nama ide, dendam, nafsu, ambisi atau kepentingan diri sendiri maupun kelompok. Kekerasan merupakan buah dari sikap kita sendiri. Yang dengan perbuatan-perbuatan kita, sadar atau tidak, sering melukai dan menghancurkan kehidupan itu untuk kepentingan pribadi. Maka dapatkah kita berubah? Dapatkah kehidupan diperbaharui?

Kita terus meraba-raba jawabannya. Ketika pesawat sipil dibajak dan ditabrakkan ke sebuah gedung sehingga ribuan jiwa tewas. Ketika bom dipasang dan diledakkan dimana-mana hingga ratusan tubuh remuk. Ketika pembantaian dilaksanakan hanya demi sebuah dendam dan amarah atau bahkan hanya demi utuhnya suatu kekuasaan saja. Dan kerusuhan pun marak dimana-mana dengan mengorbankan jiwa orang-orang tak bersalah sama sekali. Kita terpana. Dan mengutuk. Mungkin juga menangisi kekejaman itu. Tetapi setelah lewatnya sang waktu, lupa pun datang. Kita kembali terbenam dalam kesibukan sehari-hari. Upaya untuk menghidupi diri. Dan memang, tidak ada yang berubah. Tidak ada yang diperbaharui.

“Jangan kita kutuk gelap. Kita nyalakan lilin” kata sebuah pepatah. “Jadilah lilin yang rela lumer demi menerangi kegelapan” kata pepatah lain. Ya, dalam kapasitas kita yang cuma secuil debu ini, sesungguhnya hanya perbuatan-perbuatan sederhana yang mampu merenovasi hidup. Cinta kasih. Perhatian kepada sesama terutama yang lebih lemah. Pengurbanan untuk orang lain terutama yang menderita. Kita tidak mungkin dapat merubah orang lain atau memperbaharui dunia. Kita hanya dapat merubah dan memperbaharui diri kita sendiri. Itupun jika kita sanggup.

Maka sejarah memang merupakan cermin diri kita sendiri. Sejarah adalah perbuatan-perbuatan kita. Adalah pikiran-pikiran kita. Adalah keberanian kita untuk memperjuangkan kehidupan. Adalah keterpencilan kita menghadapi duka dan suka peristiwa sehari-hari. Sejarah yang harus dijalani dengan mengubah dan memperbaharui diri kita sendiri. Diri kita yang masih sanggup bernafas karena “sesaat adalah abadi sebelum Kau sapu tamanMu setiap pagi” (dari selarik puisi Sapardi Djoko Darmono, Hatiku selembar daun). Dan jika Ia telah mulai membersihkan tamanNya, kita pun tak punya kekuatan apapun untuk bertahan. Kita akan tersapu pergi. Pahamkah kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s